Minggu, 11 Januari 2015

Puisi






Dikala mentari muncul di ufuk timur




Mata ini mulai melihat bahwa ada secercah sinar




Sinar yang tak terkalahkan oleh sinar apa pun.




 Sinar yang mampu menerangi indahny hasil karya sang maha pencipta




Kala mentari muncul ku melihat betaapa agungnya hasil cipta sang maha kuasa..




Tidak ada keraguan akan mentari itu




Sinar nya yang menjadi sumber kehidupan




Tafsir

QS An-nisa: 122
Sedangkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan kami masukan mereka kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya. Janji Allah adalah hak. Dan siapakah yang lebih benar perkataannyaa? (An-nisa:122)
Tafsir Ibnu Katsir
 Firman Allah ta`ala, “Mereka itu”, yakni orang memandang indah terhadap apa yang dijanjikan dan diimimg-imingi setan, “tempatnya” yakni tempat kembali mereka pada hari kiamat “adalah jahannam dan mereka tidak akan menemukan jalan untuk menyelamatkan diri darinya”. Kemudian Allah menceritakan ihwal orang-orang yang bahagia dan bertakwa. Dia berfirman, “sedangkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh”, yakni hatinya membenarkan dan anggota badannya mengamalkan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang, “akan kami masukan mereka kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya” tidak sirna dan berpindah.”janji Allah adalah hak” pasti terjadi.” Dan siapakah yang lebih benar perkataannya selain daripada Allah?” Yakni, tidak ada seorang pun yang lebih benar perkataan dan beritanya kecuali Dia yang tidak ada tuhan melinkan Dia dan tidak ada Rabb selain Dia. Adalah Rasulullah saw. Bersabda:”Seseungguhnya perkataan yang palingh mulia ialah firman Allah, dan petunjuk yang paling baik ialah petunjuk Muhammad saw., dan perkara yang paling buruk ialah yang diada-adakan, setiap perkara yang diada-adakan ialah bid`ah, setiap bid`ah ialah sesat, dan setiap kesesatan dalam neraka.

QS An-nisa: 125
Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai  kesayangan-Nya.(An-nisa: 125)
Tafsir Ibnu katsir
Allah ta`ala berfirman, “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah”, yakni mengiklaskan malnya hanya untuk Tuhannya Azza wa Jalla, lalu dia beramal berdasarkan kekimanan dan perhitungan, “sedangkan dia mengerjakan kebaikan”, yakni dalam beramal itu dia mengikuti aturan yang telah disyariatkan Allah baginya, serta mengikuti petunjuk dan agama yang hak yang dibawa oleh Rasul-Nya. Sebuah amal tidak sah tanpa kedua syarat itu. Suatu amal dikatakan benar jika ia mengikuti syariat. Barang siapa yang mengikuti syariat dan lahiriagh amalnya dipandang sah menurut syariat serta bantiniahnya iklas dan benar seperti lahiriahnya. Maka amalnya itu akan diterima. Jika dia kehilangan keiklasan, maka dia munafik. jika dia tidak mengikuti syariat, maka dia sesat dan dungu. Jika sesesuaian dengan syariat dan keikhlasan menyatu dalam sebuah amal, maka itulah amal seorang mukmin yang akan diterima dan dibalas dengan balasan sebaik-baiknya serta dimaafkan berbagai kesalahannya. Oleh karena itu Allah Ta`ala berfirman,:”Dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif.” Yang dimaksud oleh ayat ini ialah Muhammad dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Allah Ta`ala berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad).” (Ali Imran: 68). Dan berfirman Allah Ta`ala, kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): `Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”aaaaaa dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan`” (an-Nahl: 123). Hanif artinya menyimpang dan meninggalkan kemusyirikan serta mengacu kepada kebenaran secara total, tanpa dihalangi rintangan oleh apa-pun.
Firman Allah,”Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayangan.” Penggalan ini merupakan motivasi supaya mengikuti Ibrahim, sebab dia merupakan pemimpin yang patut diikuti karena telah mencapai kepada sasaran yang mendekatkan hamba kepada Tuhannya. Dia telah mencapai derajat persahabatan yang merupakan maqam mahabbah tertinggi. Derajat itu lantaran dia banyak melakukan ketaatan kepada Rabbnya, sebagaimana itu disifati Allah dalam firmannya, “ Dan Ibrahim adalah orang yang telah memenuhi.” Banyak ulama salaf yang menafsirkan ayat ini dengan: Ibrahim telah melaksanakan segala hal yang diperintahkan kepadanya dan berada dalam setiap maqam ibadah. Ibrahim tidak keliru dalam membedakan antara perkara penting dengan yang bsepele; antara yang besar dengan yang kecil. Allah Ta`ala berfirman, “sesungguhnya Ibrahim merupakan manusia yang taat kepada Allah, orang yang hanif, dan dia tidak termasuk golongan orang yang menyekutukan Allah.”
Al-Bukhari meriwayatkana dari Amr bin Maimun, dia berkata, “ketika dia membaca, ‘Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan,’tiba-tiba ada seseorang berkata,’Sungguh bersuka citalah ibu Ibrrahim.’” Dalam sebuah hadits yang ditegaskan dalam sahihain, yaitu hadits riwayat Abu Said al-Khudri yang mengatakan bahwa tatkala Rasulullah sampai di akhir salah satu khutbahnya, maka beliau bersabda, “Amma ba`du. Wahai manusia, seandainya aku akan menjadikan salah seorang penghuni bumi sebagai kekasih, niscaya ku jadikan Abu Bakar bin Abi Quhafah sebagai kekasih, namun sahabatmu  adalah kekasih Allah,” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits yang diriwayatkan dari jalur Jundup Ibnu Abdullah melalui sanadnya yang sampai kepada Abdullah bin Mas`ud, Nabi saw., beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah mengambilku sebagai kekasih sebagaimana Dia telah mengambil Ibrahim sebagai kekasih.”