Rina
Minggu, 11 Januari 2015
Tafsir
QS An-nisa: 122
Sedangkan orang-orang
yang beriman dan beramal saleh akan kami masukan mereka kedalam surga yang
mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya. Janji Allah
adalah hak. Dan siapakah yang lebih benar perkataannyaa? (An-nisa:122)
Tafsir
Ibnu Katsir
Firman Allah ta`ala, “Mereka itu”, yakni orang
memandang indah terhadap apa yang dijanjikan dan diimimg-imingi setan,
“tempatnya” yakni tempat kembali mereka pada hari kiamat “adalah jahannam dan
mereka tidak akan menemukan jalan untuk menyelamatkan diri darinya”. Kemudian
Allah menceritakan ihwal orang-orang yang bahagia dan bertakwa. Dia berfirman,
“sedangkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh”, yakni hatinya
membenarkan dan anggota badannya mengamalkan apa yang diperintahkan dan
meninggalkan apa yang dilarang, “akan kami masukan mereka kedalam surga yang
mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya” tidak sirna
dan berpindah.”janji Allah adalah hak” pasti terjadi.” Dan siapakah yang lebih
benar perkataannya selain daripada Allah?” Yakni, tidak ada seorang pun yang
lebih benar perkataan dan beritanya kecuali Dia yang tidak ada tuhan melinkan
Dia dan tidak ada Rabb selain Dia. Adalah Rasulullah saw. Bersabda:”Seseungguhnya perkataan yang palingh mulia ialah firman
Allah, dan petunjuk yang paling baik ialah petunjuk Muhammad saw., dan perkara
yang paling buruk ialah yang diada-adakan, setiap perkara yang diada-adakan
ialah bid`ah, setiap bid`ah ialah sesat, dan setiap kesesatan dalam neraka.
QS An-nisa: 125
Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan
dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti
agama Ibrahim yang hanif? Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan-Nya.(An-nisa: 125)
Tafsir Ibnu katsir
Allah ta`ala berfirman, “Dan
siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang-orang yang menyerahkan dirinya
kepada Allah”, yakni mengiklaskan malnya hanya untuk Tuhannya Azza wa Jalla,
lalu dia beramal berdasarkan kekimanan dan perhitungan, “sedangkan dia
mengerjakan kebaikan”, yakni dalam beramal itu dia mengikuti aturan yang telah
disyariatkan Allah baginya, serta mengikuti petunjuk dan agama yang hak yang
dibawa oleh Rasul-Nya. Sebuah amal tidak sah tanpa kedua syarat itu. Suatu amal
dikatakan benar jika ia mengikuti syariat. Barang siapa yang mengikuti syariat
dan lahiriagh amalnya dipandang sah menurut syariat serta bantiniahnya iklas
dan benar seperti lahiriahnya. Maka amalnya itu akan diterima. Jika dia
kehilangan keiklasan, maka dia munafik. jika dia tidak mengikuti syariat, maka
dia sesat dan dungu. Jika sesesuaian dengan syariat dan keikhlasan menyatu
dalam sebuah amal, maka itulah amal seorang mukmin yang akan diterima dan
dibalas dengan balasan sebaik-baiknya serta dimaafkan berbagai kesalahannya.
Oleh karena itu Allah Ta`ala berfirman,:”Dan mengikuti agama Ibrahim yang
hanif.” Yang dimaksud oleh ayat ini ialah Muhammad dan orang-orang yang
mengikutinya hingga hari kiamat. Allah Ta`ala berfirman, “Sesungguhnya orang
yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang yang mengikutinya dan Nabi ini
(Muhammad).” (Ali Imran: 68). Dan berfirman Allah Ta`ala, kemudian kami
wahyukan kepadamu (Muhammad): `Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”aaaaaa
dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan`” (an-Nahl:
123). Hanif artinya menyimpang dan
meninggalkan kemusyirikan serta mengacu kepada kebenaran secara total, tanpa
dihalangi rintangan oleh apa-pun.
Firman Allah,”Dan Allah
menjadikan Ibrahim kesayangan.” Penggalan ini merupakan motivasi supaya
mengikuti Ibrahim, sebab dia merupakan pemimpin yang patut diikuti karena telah
mencapai kepada sasaran yang mendekatkan hamba kepada Tuhannya. Dia telah
mencapai derajat persahabatan yang merupakan maqam mahabbah tertinggi. Derajat
itu lantaran dia banyak melakukan ketaatan kepada Rabbnya, sebagaimana itu
disifati Allah dalam firmannya, “ Dan Ibrahim adalah orang yang telah
memenuhi.” Banyak ulama salaf yang menafsirkan ayat ini dengan: Ibrahim telah
melaksanakan segala hal yang diperintahkan kepadanya dan berada dalam setiap
maqam ibadah. Ibrahim tidak keliru dalam membedakan antara perkara penting
dengan yang bsepele; antara yang besar dengan yang kecil. Allah Ta`ala
berfirman, “sesungguhnya Ibrahim merupakan manusia yang taat kepada Allah,
orang yang hanif, dan dia tidak termasuk golongan orang yang menyekutukan
Allah.”
Al-Bukhari meriwayatkana dari Amr
bin Maimun, dia berkata, “ketika dia membaca, ‘Dan Allah menjadikan Ibrahim
sebagai kesayangan,’tiba-tiba ada seseorang berkata,’Sungguh bersuka citalah
ibu Ibrrahim.’” Dalam sebuah hadits yang ditegaskan dalam sahihain, yaitu
hadits riwayat Abu Said al-Khudri yang mengatakan bahwa tatkala Rasulullah
sampai di akhir salah satu khutbahnya, maka beliau bersabda, “Amma ba`du. Wahai manusia, seandainya aku
akan menjadikan salah seorang penghuni bumi sebagai kekasih, niscaya ku jadikan
Abu Bakar bin Abi Quhafah sebagai kekasih, namun sahabatmu adalah kekasih Allah,” (HR Bukhari dan
Muslim).
Dalam hadits yang diriwayatkan
dari jalur Jundup Ibnu Abdullah melalui sanadnya yang sampai kepada Abdullah
bin Mas`ud, Nabi saw., beliau bersabda:”Sesungguhnya
Allah mengambilku sebagai kekasih sebagaimana Dia telah mengambil Ibrahim
sebagai kekasih.”
Langganan:
Postingan (Atom)